
Bukankah tidak asing dengan judul blog ini? Ya, ini merupakan sepenggal lirik dari lagu Bertaut milik Nadin Amizah.
Lagu Bertaut yang dikarang dan dinyanyikan oleh Nadin Amizah sampai saat ini masih nyaman didengar ditelinga. Diksi-diksi yang dipilih sebagai lirik lagu Bertaut memiliki banyak ciri khas.
Lagu yang dirilis bertepatan dengan hari kelahiran Nadin Amizah pada tanggal 28 Mei 2020, menjadi satu dari rangkaian album perdana Nadin yang bertajuk Selamat Ulang Tahun.
Sejak pertama kali ditayangkan di YouTube pada 2 November 2020, video klip Bertaut telah ditonton lebih dari 38 juta kali. Video klip Bertaut juga masuk dalam nominasi karya produksi folk/country/balada terbaik AMI Awards 2020.
Menurut Nadin, Bertaut sangat lugas menuturkan tentang batin dan cinta antara ibu dan anak yang tumbuh bersama melekat jadi satu.
Kata “Bun” merupakan panggilan yang Ia tujukan kepada sang Ibunda. Penggunaan kata “Bun” ditujukan agar khalayak tidak memberikan interpretasi lain di luar hubungan Nadin dan sang bunda (Fathurrozak, 2020).
Kata ‘Bertaut’ menurut KBBI artinya berkaitan, bergandengan, atau jalin menjalin. Kata ini merujuk pada fakta bahwa hubungan yang terjalin antara ibu dan anak selalu bertaut/berkaitan.
Lantas berkaitan yang seperti apa? Hubungan yang terjalin antara Nadin dan Bundanya sangatlah harmonis. Terlihat jelas dari setiap lirik yang dia tuliskan di lagu tersebut.
Secara singkat lagu yang ditulis Nadin ini menceritakan seorang anak yang sedang berkeluh kesah kepada ibunya. Tentang segala hal yang di alaminya selama hidup, tentang dunia yang ternyata sangat keras kepadanya, juga tentang sudut pandang orang lain terhadapnya.
Lagu ini seolah mengungkap dalam keadaan apapun, hubungan seorang ibu dan anaknya takkan mungkin bisa dipisahkan. Seorang ibu akan senantiasa hadir di setiap fase kehidupan anaknya.
Dalam lirik “Bun, hidup berjalan seperti bajingan. Seperti landak yang tak punya teman. Ia Menggonggong bak suara hujan. Dan kau Pangeranku mengambil peran”. Bait pertama ini terasa mengejutkan, banyak kata yang terasa kasar. Sama halnya seorang anak yang beranjak dewasa terkejut melihat bagaimana dunia yang sesungguhya.
Selalu ada stigma dari kata yang menjadi sebuah perumpamaan, salah satunya “Bajingan”. Arti kata bajingan dalam KBBI adalah kurang ajar. Kata ini lekat dengan kesan pisuh, yakni lontaran makian ketika mendapat kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Diibaratkan “Landak” yang tak punya teman. Landak merupakan satwa pengerat yang memiliki duri tajam di tubuhnya, siapa saja yang mendekatinya dapat terluka akibat duri tajam. Artinya banyak orang yang akan menjauh saat melihat kamu terkena masalah, takut mendekat karena takut ikut-ikutan terkena masalah.
Kata “Menggonggong” disini bukan berarti sebutan suara yang dihasilkan oleh salah satu hewan mamalia itu. Maksud dari lirik “menggonggong bak suara hujan” adalah suara buruk yang sangat ramai dihidup, seperti hujan yang akan disebut dengan hujan apabila datang dengan ramai. Seperti halnya orang-orang yang hanya bisa mencela tanpa mencari tahu latar belakangnya.
Dari lirik-lirik di atas, dapat kita lihat betapa dunia sesungguhnya sangatlah menakutkan. Penuh makian, penuh dengan kepalsuan, penuh permasalahan. Tapi di tengah-tengah semua kegaduhan penyambutan dunia yaang terasa baru, Ibu masih berada disamping kita, selalu ada dengan pertanyaan “bagaiaman kegiatan hari ini?”. Ya, semuanya akan terasa baik-baik saja ketika kita bersama ibu.
Ada lirik dibagian reff yang sangat menyentuh, entah hati ini yang mudah melow atau memang lirik yang ditulis Nadin sangatlah magic.
“Aku masih ada sampai di sini. Melihatmu kuat setengah mati”, ini adalah salah satu lirik yang mengena. Melihat sosok ibu yang ketika diperhatikan seperti tidak pernah merasakan lelah. Melihatnya banting tulang, mencari nafkah untuk orang rumah. Segala cara dilakukan untuk membuatmu bahagia. Tak pernah menceritakan bahwa punya hutang di mana-mana, kerja sangat berat seperti apa, tekanan dari omongan-omongan tetangga, bahkan sampai menangis di suatu tempat karena tak tau harus apa, semua ia sembunyikan demi membuatmu bahagia. Mungkin enggan rasanya ketika sosok ibu ingin mengeluh didepan anaknya, karena mendengar anaknya mengeluh akan berbagai hal saja sudah membuatnya merasa kenyang.
“Semoga lama hidupmu di sini. Melihatku berjuang sampai akhir”, jujur lirik ini adalah do’a semua anak yang berharap ibunya selalu sehat serta diberi umur panjang, untuk bisa melihatnya sukses dan terus menemaninya hingga sampai kapanpun. Walaupun kita percaya bahwa hidup ini hanya semetara dan semua orang pasti akan tiada, tapi tak akan pernah ada yang rela jika ibu atau orang-orang tercinta kita dipanggil-Nya secara tiba-tiba.
Hal ini tentu di luar kendali kita, karena semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan-Nya. Yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik di sisa waktu yang ada, melakukan apa saja yang berguna, dan mengurangi kegiatan yang sia-sia.
Ini adalah bagian yang paling dalam, ketika lagu itu sampai pada lirik “Seperti detak jantung yang bertaut. Nyawaku nyala karna denganmu”. Bagian ini terlalu jujur, bahkan sangking jujurnya sangat sulit untuk mendefinisikan arti lirik ini. Karena akan terasa sangat sulit bagi siapapun ketika harus menghadapi kenyataan kehilangan salah satu orang yang sangat berperan dalam hidup.
Ibu sosok perempuan yang menjadi idola bagi anak-anaknya. Bagaimana tidak,
sosoknya yang kuat, penyabar juga pemaaf, adalah impian semua anak yang
melihatnya.
Ibu dapat di ibaratkan jantung dalam diri anaknya. Seperti jantung yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Perannya dalam memompa darah ke seluruh tubuh membuat seluruh sistem dan organ di dalam tubuh tetap berfungsi dengan baik.
Kekuatannya sering kali menjadi tolak ukur bagi anak-anaknya, “Ibu
saja kuat sekali menghadapi permasalahan yang lebih dari ini, masa aku tidak bisa kuat
sepertinya” kalimat yang akan terbesit di kepala ketika seorang anak
mengalami kesulitan dan rasanya ingin sekali menyerah.
“Gapapa masih ada ibu”. Mau sepelik apapun permasalahan hidup yang dihadapi seorang anak, semua akan terasa lebih mudah selama masih ada ibu.
Silahkan kalian bisa sesuka hati mengartikan bagian ini, karena setiap kita pasti punya pengertian tersendiri ketika mendengar lirik tersebut.

Kasih Ibu sepanjang masa, begitu besar rasa cinta seorang ibu kepada anaknya yang berusaha Nadin gambarkan lewat lagu bertaut ini. Perjuangan seorang ibu tidak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Tak ada yang lebih istimewa darinya. Tak ada yang memiliki rasa kasih sayang sebaik, setulus dan sebesar ibu terhadap anak-anaknya. Tak ada rasa yang lebih nyaman selain berada didekatnya.
Karena sejauh apapun kita pergi mencari kebahagiaan, hanya ibu sebaik-baiknya tempat pulang, melabuhkan keluh kesah dan juga kebahagiaan.
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, juga banyak kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang.
Semoga sedikit sudut pandang dari lagu ini dapat kita maknai dan renungi
bersama. Dijaga selalu hubungan baiknya ya, karena ibu akan selalu menerima
kamu kapanpun dan bagaimanapun keadaan kamu.
Terimakasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca sampai akhir. Mari
bersama berikan do’a tebaik untuk sosok yang tak pernah lupa mendo’akan kita.