
Apakah kalian baik-baik saja? Kasus bunuh diri pada mahasiswa banyak menyita perhatian publik, dengan mempertanyakan apa yang menyebabkan mahasiswa-mahasiswi tak jarang memilih mengakhiri hidupnya. Salah satu kasus yang dilansir dari liputan6, seorang mahasiswi Universitas Indonesia (UI) ditemukan meninggal di apartemen daerah Kebayoran baru, Jakarta. Mahasiswa tersebut diduga bunuh diri. Kapolsek Kebayoran baru menjelaskan bahwa Mahasiswa tersebut merupakan korban perceraian orang tuanya (13/03/23). Tidak hanya satu, beberapa kasus serupa juga kerap terjadi di berbagai daerah. Tahun lalu, masyarakat dihebohkan dengan peristiwa mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melakukan bunuh diri, Sabtu (8/10/2022). Korban melompat dari lantai 11 sebuah hotel di kawasan Depok, Sleman, DIY. Peristiwa tersebut tentu disayangkan banyak orang, Apalagi mahasiswa UGM tersebut merupakan mahasiswa baru.
Bunuh diri merupakan masalah serius yang menghantui banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu kelompok yang rentan mengalami kasus bunuh diri adalah mahasiswa. Di Indonesia, tingginya angka bunuh diri di kalangan mahasiswa menjadi pusat perhatian, karena dapat memberikan dampak yang luas bagi individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Dalam hasil penelitian yang dilakukan Emotional Health for All Foundation (EHFA), Kementerian Kesehatan, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2022 ditemukan ada tiga permasalahan yang kerap menjadi faktor risiko seseorang bunuh diri:
Masalah keluarga
Masalah Keuangan
Kesepian
Studi tersebut dilakukan dengan melakukan 100 jam wawancara mendalam untuk meninvestigasi beragam aspek bunuh diri di Indonesia.
Ide bunuh diri ada karena hilangnya gairah untuk hidup, merasa acuh dan diacuhkan oleh lingkungan sekitar. Kebanyakan mahasiswa yang melakukan tindakan bunuh diri merupakan mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga sehingga terjadi beberapa gejolak batin. Perubahan secara drastis juga dapat menjadi salah satu faktor mahasiswa memilih upaya bunuh diri. Selain itu, masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya, merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Beban akademik yang tinggi, tekanan sosial, dan perubahan lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Sayangnya, kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental di perguruan tinggi masih terbatas di Indonesia, sehingga mahasiswa seringkali kesulitan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Tapi, kamu tidak sendiri. Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Apabila Kamu, teman, saudara, atau keluarga yang Kamu kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat. Berkonsultasi ke Psikolog maupun Psikiater bukan berarti kita gila, terkadang kita sering melupakan bahwa setiap kita adalah manusia, apa pun kondisinya. Setiap kita membutuhkan pertolongan orang lain, setiap kita juga berhak untuk diperlakukan sama. Kita berhak mengungkapkan apa yang mengganggu diri kita, kita berhak didengarkan atas apa yang kita utarakan.
Semua orang memiliki hak atas hidupnya, tapi mungkin hanya sebagian saja yang berani dan mampu mempertahankan hidup dengan sebaik-baiknya. Untuk kamu yang memilih melanjutkan hidup, kamu hebat tetap bertahan. Terimakasih, terimakasih sudah melangkahkan kaki sejauh ini. Hidup memang terkadang terasa sulit untuk dijalani, masalah datang silih berganti, tapi semoga selalu ada kebahagiaan yang datang menghampiri.
Kalian juga bisa berbagi cerita disini sesuka hati, barangkali setelahnya sedikit memberikan efek lega pada hati. Sehat, Bahagia dan terimakasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca<33